Tekan Penyebaran HIV, Dr. Meri Sahrini Ingatkan Pentingnya Tes Dini dan Peran Masyarakat

BANDUNG – Fakta Reformasi ,– Pemateri utama kegiatan sosialisasi kesehatan, dr. Meri Sahrini, Sp.KK, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin sekaligus Penyuluh Kesehatan Pasien HIV/AIDS di Bagian Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, memaparkan data penting, cara penularan, hingga kemudahan akses pengobatan saat memberikan keterangan khusus kepada awak media.di Aula Kelurahan Sindang jaya , kecamatan Mandalajati Rabu (20/05/2026).

Menurut dr. Meri, peran serta masyarakat yang diwadahi dalam organisasi seperti P3A sangatlah krusial dan harus terus digalakkan hingga ke tingkat kelurahan agar edukasi dan pemahaman mengenai penyakit ini dapat diterima secara luas.
“Peran yang harus dilakukan oleh elemen masyarakat khususnya P3A adalah turut menyusun program dan mendampingi pelaksanaannya sampai ke tingkat kelurahan. Saya menilai program ini sangat positif dampaknya. Saat ini, tercatat ada sebanyak 1.600 orang yang aktif dalam pemantauan dan penanganan kesehatan terkait HIV di RSUD dr. Hasan Sadikin saja”

Menanggapi apakah angka tersebut
menunjukkan adanya peningkatan kasus, dr. Meri memandang hal ini dari sisi yang lebih konstruktif. Ia mengingatkan akan adanya fenomena gunung es dalam kasus HIV, di mana jumlah yang tercatat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan sebenarnya.
“Kalau kita tanya apakah angka 1.600 orang itu meningkat atau tidak, kita harus melihat makna positifnya. Dalam kasus HIV dikenal istilah fenomena gunung es, di mana yang tampak di permukaan terlihat sedikit, padahal faktanya kasus yang ada di masyarakat jauh lebih banyak. Hal ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kondisinya, atau masih merasa khawatir dan takut untuk melakukan tes pemeriksaan,” jelasnya.
Beliau kembali menegaskan bahwa HIV merupakan penyakit menular berisiko tinggi dengan jalur penularan yang spesifik. Penyebaran virus ini utamanya terjadi akibat perilaku berganti-ganti pasangan, hubungan seksual baik sesama jenis maupun heteroseksual yang tidak aman, serta penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Terkait deteksi dini, dr. Meri memaparkan kemudahan yang kini sudah tersedia bagi masyarakat. Metode pemeriksaan menggunakan alat tes mandiri atau nasal dinilai sangat ampuh, mudah, dan tidak menimbulkan rasa sakit, karena cukup menggunakan sampel air liur atau oral plut.

“Alat tes nasal ini sangat ampuh untuk skrining awal, cukup lewat air liur saja kita sudah bisa mendapatkan gambaran. Namun untuk pengecekan lebih mendalam terkait risiko perilaku seksual, itu menjadi tugas dan tanggung jawab tim medis untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya.
Lebih jauh, dr. Meri menyamakan HIV dengan penyakit kronis lainnya seperti Diabetes Melitus, yang mana tidak bisa disembuhkan total namun dapat dikendalikan seumur hidup melalui pengobatan rutin. Selama pasien disiplin mengonsumsi obat dan terpantau kondisinya, kualitas hidup mereka tetap terjaga dengan baik dan bisa beraktivitas normal.

“HIV itu penyakit kronis, tidak bisa sembuh total layaknya penyakit ringan, namun harus dijalani dengan pengobatan seumur hidup sama seperti penderita diabetes. Namun jangan khawatir, pasien yang saya tangani selama ini, asalkan minum obat teratur dan terpantau, kondisi kesehatannya sangat baik dan kualitas hidupnya tetap terjaga,”

Satu kabar gembira bagi warga Kota Bandung, dr. Meri memastikan bahwa seluruh akses pelayanan kesehatan, pemeriksaan, hingga pengobatan terkait HIV/AIDS di Kota Bandung disediakan secara gratis dan dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

Menutup keterangannya, dr. Meri menyampaikan pesan penting bagi seluruh masyarakat sebagai langkah pencegahan utama. “Pesan saya sederhana: bagi yang berisiko, gunakan kondom saat berhubungan intim. Miliki satu pasangan tetap harus setia , kini sudah tersedia program pemeriksaan mandiri di Puskesmas, bahkan penyediaan jarum suntik baru juga disediakan secara gratis. Dan jika sudah terlanjur terpapar, segera akses pelayanan kesehatan agar penanganan bisa segera dilakukan,” pungkas dr. Meri Sahrini, Sp.KK.

(Lia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *