
BANDUNG – Fakta Reformasi, – Upaya menyamakan persepsi dan pemahaman masyarakat mengenai penanganan HIV/AIDS terus diperkuat hingga ke tingkat paling bawah. Di Kelurahan Sindang Jaya, Lurah setempat, Yayan Syuryana Mulyana, ST, menegaskan sikap tegas warga untuk tidak lagi memandang sebelah mata bahkan menjauhi mereka yang hidup dengan HIV. Menurutnya, kepedulian adalah kunci utama, dan warga yang sudah mendapat bekal ilmu wajib menyebarkannya kembali ke lingkungan sekitar agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Penyandang HIV harus kita rangkul, tidak boleh dijauhkan dari lingkungan kita. Pemahaman yang benar harus kita tanamkan, supaya tidak ada lagi diskriminasi. Ilmu yang didapat hari ini harus disampaikan kembali dengan bahasa yang mudah dimengerti tetangga kita,” ungkap Yayan di hadapan warga dan unsur musyawarah kelurahan.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung dari Fraksi Partai Golkar, Radea Respati Paramudhita. Ia mengingatkan, masalah penanganan dan pencegahan penyakit ini bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi dan partisipasi aktif warga.
Sementara itu, dr. Merry Lestari, dokter Poli Rawat Jalan Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, memuji langkah strategis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) yang turun langsung menyusun program edukasi hingga ke tingkat kelurahan. Bagi dr. Merry, langkah ini sangat luar biasa mengingat sosialisasi penyakit biasanya menjadi ranah Dinas Kesehatan. Namun karena isu ini berkaitan erat dengan ketahanan keluarga, keterlibatan DP3A menjadi jembatan paling pas agar pesannya sampai ke rumah-rumah warga.
“Ini langkah yang sangat bagus. Kami di rumah sakit merasa terbantu sekali, karena DP3A seolah menjadi perpanjangan tangan kami untuk mengedukasi masyarakat. Biasanya penyuluhan medis ada di tangan Dinas Kesehatan, tapi karena ini masuk ranah keluarga, pendekatannya jadi lebih menyentuh,” ujar dr. Merry.
Data terkini mencatat, tercatat ada 1.600 orang yang terkonfirmasi HIV positif dan rutin berobat di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Angka ini sebenarnya cukup tinggi, namun dr. Merry menilai hal itu bukan kabar buruk, melainkan tanda kemajuan. Artinya, kasus-kasus yang dulunya tersembunyi dan tidak terdeteksi alias fenomena “gunung es”, kini mulai terungkap karena warga makin berani dan sadar melakukan pemeriksaan. Deteksi pun makin gampang, cukup lewat metode tes cepat berbasis air liur atau oral quick test.
Dr. Merry juga meluruskan anggapan bahwa HIV adalah penyakit mematikan yang menakutkan. Menurut penjelasannya, HIV itu sama saja dengan penyakit kronis lain seperti diabetes. Tidak bisa sembuh total, tapi bisa dikendalikan sepenuhnya lewat obat rutin. Pasien yang disiplin minum obat, kualitas hidupnya sama persis dengan orang sehat biasa dan bisa beraktivitas normal.
“Jangan takut, HIV itu bisa dikendalikan. Semakin cepat diperiksa, semakin cepat tahu kondisinya, semakin mudah diatur kesehatannya. Hidupnya bakal sama saja seperti orang lain, asalkan rutin berobat,” tegasnya.
Akses pemeriksaan pun dipastikan sangat mudah dan gratis di seluruh Puskesmas se-Kota Bandung. Bagi warga yang merasa memiliki risiko tertular, dr. Merry meminta agar jangan ragu atau malu datang memeriksakan diri. Pencegahan bisa lewat kesetiaan pada pasangan, pemakaian kondom, atau memanfaatkan layanan jarum suntik steril gratis di Puskesmas bagi yang membutuhkan.
Pesan terakhir dr. Merry sangat tegas: jangan menunggu sakit parah baru cek kesehatan, dan buang jauh-jauh rasa takut dikucilkan.
“Jangan tunggu sakit dulu baru ke dokter. Hilangkan rasa takut dianggap aneh atau dikucilkan. Langkah awal cek diri sendiri adalah cara paling cerdas menjaga kesehatan,” pungkasnya.
(Lia)