Di Balik Pena Yang Tajam , Ada Hati Yang Lelah

Penulis : Lia

Menjadi jurnalis bukan hanya soal berita yang naik, foto yang bagus, atau nama yang terpampang di media. Di balik setiap tulisan yang kita hasilkan, tersimpan cerita yang tak pernah bisa kita publikasikan: Cerita tentang lelah, rindu, dan pengorbanan.

Seringkali, kita harus meninggalkan rumah saat orang lain sedang tidur nyenyak. Saat keluarga berkumpul merayakan hari besar, kita justru harus berada di lokasi kejadian, memburu berita demi tugas. Hati ingin pulang, kaki ingin istirahat, tapi tanggung jawab berkata lain.

Badai panas dan hujan tak pernah jadi alasan untuk berhenti. Tubuh bisa saja sakit, mata bisa saja mengantuk, tapi rasa haus akan informasi tak pernah padam. Terkadang, kita harus menerima kenyataan pahit: dicaci saat berbuat salah, tapi diabaikan saat berbuat baik.

Yang paling menyedihkan, seringkali kita dianggap kuat, dianggap baja, dianggap tak punya perasaan. Padahal, jurnalis juga manusia biasa yang punya hati. Yang juga bisa menangis saat melihat penderitaan, yang juga bisa lelah saat tekanan datang bertubi-tubi, dan yang juga rindu suasana rumah yang hangat.
Tapi inilah jalan yang dipilih. Dengan pena di tangan dan kamera di bahu, kita terus berjalan. Menelan pil pahit sendirian, menyimpan lelah dalam diam, demi satu tujuan: Menyuarakan kebenaran, walau harus mengorbankan waktu dan rasa sendiri.

” Penulis : Lia”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *