
Situasi internasional saat ini dinilai belum menentu. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, hingga gagalnya perundingan di Pakistan, telah menekan harga bahan bakar dan bahan baku. Dampaknya langsung terasa di lini produksi, memaksa pelaku industri untuk segera mencari formula bertahan hidup sekaligus tumbuh di tengah ketidakpastian.
Ratusan pelaku usaha berkumpul dalam forum yang mempertemukan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dengan India ITME Society. Suasana terasa akrab namun penuh kesungguhan, ditandai dengan sesi diskusi dan pertemuan antara Ketua India ITME Society, Mr. Ketan Sanghvi, dan Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa.
Teknologi India, Kekuatan Indonesia
Mr. Ketan Sanghvi menegaskan, kedatangan delegasi India bukan sekadar silaturahmi, melainkan membawa solusi nyata. Ia melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial dan mitra setara.
“Kami hadir bersama para produsen mesin terkemuka untuk berbagi teknologi. Tujuannya jelas, membantu modernisasi industri di sini agar lebih efisien dan produktif. India dan Indonesia adalah saudara, dan kerja sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak,” ungkap Mr. Ketan dengan optimis
Pernyataan itu disambut hangat oleh Jemmy Kartiwa. Menurutnya, penguasaan teknologi India yang sudah mumpuni bisa menjadi kunci untuk mendongkrak daya saing produk dalam negeri yang saat ini sedang berjuang menghadapi persaingan ketat.
“India memang sudah jauh melangkah soal permesinan. Kami berharap anggota API bisa mengambil manfaat besar dari pertemuan ini, mulai dari transfer ilmu hingga investasi yang saling menguntungkan,” ujar Jemmy.
Forum Interactive Business Session di Hotel Sheraton ini diharapkan menjadi jembatan emas, membuka jalan bagi investasi baru dan kemitraan bisnis yang solid.
Modernisasi Ya, PHK Tidak
Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah arah transformasi industri. Di tengah dorongan penggunaan mesin canggih dan otomatisasi, kedua pihak sepakat bahwa aspek sosial tidak boleh dilupakan.
Indonesia kini kian dilirik dunia seiring tren sustainable fashion dan digitalisasi. Namun, karakter industri kita tetaplah padat karya. Oleh karena itu, inovasi teknologi harus disesuaikan agar justru menciptakan nilai tambah, bukan mengurangi tenaga kerja.
“Kami terus berupaya melakukan efisiensi energi dan meningkatkan produktivitas. Terima kasih juga kepada pemerintah yang terus berupaya menciptakan iklim investasi yang lebih baik,” tambah Jemmy.
“Prinsip kami sederhana: Produktivitas harus naik, tapi lapangan kerja juga harus tetap terjaga. Keduanya sama pentingnya untuk masa depan industri tekstil kita,” pungkasnya.
(Lia)